Implementasi dan Evaluasi Dampak Pemagangan Pada Pelatihan Berbasis Kompetensi Fashion Designer di BBPVP Semarang
DOI:
https://doi.org/10.17977/um041v20i12025p45-56Keywords:
pemagangan, pelatihan, implementasi, evaluasi kirkpatrick.Abstract
Internships play a crucial role in addressing the challenge of aligning labor market demands with industry requirements. Therefore, the Competency-Based Training (CBT) Program for Fashion Designers at BBPVP Semarang integrates CBT with internships as part of a comprehensive training process. This approach aims to produce graduates who are equipped with technical, managerial, and soft skills, as well as productivity, all supported by digital literacy tailored to the current needs of the fashion industry. BBPVP Semarang was selected as the research site because it aligns with the focus of this study. The research aims to identify the implementation and evaluate the impact of internships (on-the-job training) using the Kirkpatrick Evaluation Model in the Fashion Designer CBT Program at BBPVP Semarang. This research adopts a qualitative method by collecting data through interviews, observations, and documentation. The subsequent stage involved data analysis through data reduction, display, verification, and conclusion drawing. The research findings indicate that the implementation of internships follows Regulation of the Minister of Manpower No. 36 of 2016 on the Implementation of Domestic Internships. This is reflected in the following stages: 1) Preparation, 2) Implementation, 3) Reporting, and 4) Documentation. The evaluation of internships using the Kirkpatrick Model generate the following results: 1) Reaction: Participants expressed satisfaction with the Fashion Designer CBT Program at BBPVP Semarang, 2) Learning: The learning outcomes of the internship in terms of knowledge, technical skills, attitudes, and work ethics were achieved based on established indicators, 3) Behavior: After returning to the training institution, participants showed improvement in discipline, communication skills, teamwork, and responsibility, and 4) Results: Upon completing the training and internship, participants experienced an improvement in quality of life, as evidenced by their acceptance into internship placements, employment in the textile and garment industry, and the establishment of independent businesses.
Pemagangan diperlukan untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang sesuai dengan permintaan industri. Oleh karena itu, Program Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Fashion Designers di BBPVP Semarang mengintegrasikan PBK dengan magang sebagai bagian dari proses pelatihan yang komprehensif. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang dibekali dengan keterampilan teknis, manajerial, dan soft skills, serta produktivitas, yang didukung oleh literasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan industri mode terkini. BBPVP Semarang terpilih menjadi tempat penelitian karena sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi implementasi dan mengevaluasi dampak pemagangan menggunakan metode evaluasi Kirkpatrick pada Program PBK Fashion Designer di BBPVP Semarang. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui wawancara yang mendalam, observasi, dan dokumentasi. Tahap selanjutnya melibatkan analisis data melalui proses reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pemagangan sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 36 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, hal ini diketahui melalui tahapan: 1) Persiapan, 2) Pelaksanaan, 3) Pelaporan, dan 4) Dokumentasi. Evaluasi pemagangan menggunakan Metode Kirkpatick menghasilkan: 1) Reaction: peserta merasa puas terhadap Program PBK Fashion Designer di BBPVP Semarang, 2) Learning: evaluasi output pemagangan baik dari segi pengetahuan, keterampilan teknis, sikap dan etos kerja telah tercapai berdasarkan indikator yang telah ditetapkan, 3) Behaviour: setelah peserta kembali ke lembaga pelatihan, perubahan kedisiplinan, kemampuan komunikasi dan kerja sama serta tanggungjawab meningkat, dan 4) Result: setelah peserta selesai mengikuti pelatihan dan pemagangan, terjadi peningkatan kualitas hidup terbukti dengan diterimanya alumni pelatihan pada tempat magang, pada industri sandang dan mendirikan usaha mandiri.




