Pendidikan Masyarakat sebagai Jalan Menuju Kemandirian Desa: Studi Model Fasilitasi Desa Wisata
DOI:
https://doi.org/10.17977/um041v20i12025p13-22Keywords:
Pendidikan Masyarakat, Desa Wisata, FasilitatorAbstract
The development of community-based tourism villages requires a participatory approach that places local communities as the main actors in the development process. Facilitators have a strategic role as companions who encourage critical awareness, community organizing, and local capacity building through training, reflection forums, and mapping of village potential. This article aims to examine the role of community education in building village independence through a study of tourism village facilitation models, by highlighting the process of empowerment, capacity building, and collaboration between stakeholders in realizing an independent and sustainable village. This research uses a qualitative approach with a case study type to understand in depth the phenomenon that occurs in the process of facilitating the development of tourism villages through community education. The concept of critical education is applied to increase the cognitive capacity and social action of the community, by valuing local experience and knowledge as development capital. Strengthening village institutions such as BUMDes and Pokdarwis is an important component in creating sustainable economic and social impact. Multi-stakeholder collaboration through a pentahelix approach between the government, facilitators, academics, business actors, the community, and the media has also strengthened the tourism village ecosystem. Empowering village communities through participatory education and critical facilitation is the key to realizing inclusive, equitable, and sustainable development. Thus, the facilitator not only assists technically, but also revives the role of the community as a subject in the development of their village.
Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat membutuhkan pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam proses pembangunan. Fasilitator memiliki peran strategis sebagai pendamping yang mendorong kesadaran kritis, pengorganisasian komunitas, dan penguatan kapasitas lokal melalui pelatihan, forum refleksi, dan pemetaan potensi desa. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan masyarakat dalam membangun kemandirian desa melalui studi model fasilitasi desa wisata, dengan menyoroti proses pemberdayaan, penguatan kapasitas, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi pada proses fasilitasi pengembangan desa wisata melalui pendidikan masyarakat. Konsep pendidikan kritis diterapkan untuk meningkatkan kapasitas kognitif dan aksi sosial masyarakat, dengan menghargai pengalaman serta pengetahuan lokal sebagai modal pembangunan. Penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan Pokdarwis menjadi komponen penting dalam menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Kolaborasi multi pihak melalui pendekatan pentahelix antara pemerintah, fasilitator, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media turut memperkuat ekosistem desa wisata. Pemberdayaan masyarakat desa melalui pendidikan partisipatif dan fasilitasi kritis menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Dengan demikian, fasilitator bukan hanya mendampingi secara teknis, melainkan menghidupkan kembali peran masyarakat sebagai subjek dalam pembangunan desanya.




