https://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/issue/feedSekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan2026-05-11T07:23:56+00:00Ni Luh Sakinah Nuraini[email protected]Open Journal Systems<table border="0" width="100%" cellspacing="10" cellpadding="4"> <tbody> <tr> <td valign="top" width="100"> <p><img src="https://journal2.um.ac.id/public/journals/53/homepageImage_en_US.jpg" alt="" width="200" height="283" /></p> </td> <td valign="top" width="100%"> <table class="data" width="100%"> <tbody> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>Journal title</strong></td> <td width="40">:<strong> Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan<br /></strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>Initials</strong></td> <td width="40">: SD</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>Editor in Chief<br /></strong></td> <td width="40">: <a href="https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57204468542">Ni Luh Sakinah Nuraini</a><strong><br /></strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>Frequency</strong></td> <td width="40">: 2 Issues every year (May and November)</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>ISSN (online)<br /></strong></td> <td width="40">: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2581-1983" target="_blank" rel="noopener">2581-1983</a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"><strong>Publisher</strong></td> <td width="40">: <a href="https://um.ac.id/">Universitas Negeri Malang</a></td> </tr> <tr> <td><strong>SINTA Rank<br /></strong></td> <td>: <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/1791" target="_blank" rel="noopener">2 (Valid until Vol. 36, No. 2, 2027)</a><strong><br /></strong></td> </tr> </tbody> </table> </td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%"> <p><strong>Journal Summary<br /></strong></p> </td> <td width="40"> <div id="content"> <div id="journalDescription"> <p><strong>Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan</strong> publishes articles on conceptual ideas, studies, and application of theories, practical writing, and the results of educational research and teaching of primary schools.</p> <p><strong>Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidika</strong>n first appeared in 1992 under the name KREATIF. SEKOLAH DASAR changed its name to Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan starting 2017. In 2018 Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan indexed DOAJ</p> </div> </div> </td> </tr> <tr> <td><strong>Accreditation Certificate</strong><br /> <p><strong> </strong></p> </td> <td><a href="https://live.staticflickr.com/65535/54362036294_21f676031b_b.jpg"><img src="https://live.staticflickr.com/65535/54362036294_21f676031b_w.jpg" alt="" /></a></td> </tr> </tbody> </table>https://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3444The Implementation of Team Games Tournament-Based Peer Tutoring for Problem-Solving Ability in Fifth-Grade English Learning2025-11-12T12:51:00+00:00Diah Sinta Sri Berlianti[email protected]Patria Handung Jaya[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><span lang="EN-US"><strong>Abstract</strong>: Elementary students still face challenges in developing problem-solving ability in English learning due to conventional teaching methods </span><span lang="IN">such as teacher-centered instruction</span><span lang="EN-US"> and </span><span lang="IN">lecturing which </span><span lang="EN-US">make </span><span lang="IN">students passive </span><span lang="EN-US">learners. This issue requires innovative and engaging learning models that can increase student participation, motivation, and learning outcomes. This quantitative experimental study investigates the effectiveness of TGT-based peer tutoring in enhancing V grade students’ problem-solving ability in English. The study involved 50 students of Muhammadiyah Elementary School Karangploso, divided equally into an experimental class (25 students) and a control class (25 students). Data were collected using a descriptive test designed according to Polya’s problem-solving indicators and analysed through normality, homogeneity, and independent sample t-tests using SPSS 30. The results demonstrated a </span><span lang="IN">significant difference between</span> <span lang="EN-US">the two groups, with the experimental class achieving an average post-test score of 83.40, compared to 61.00 in the control class. These findings indicate that peer tutoring based on TGT is more effective than conventional teaching methods in improving students’ problem-solving abilities. In conclusion, the TGT based Peer Tutoring model offers a strategic method for improving the quality of English instruction and strengthening problem-solving competence in an elementary school context.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="EN-US"><strong>Abstrak</strong>: Siswa sekolah dasar masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dalam pembelajaran bahasa Inggris akibat metode pengajaran konvensional seperti pengajaran yang berpusat pada guru dan ceramah, yang membuat siswa menjadi pembelajar pasif. Masalah ini membutuhkan model pembelajaran yang inovatif dan menarik yang dapat meningkatkan partisipasi, motivasi, serta hasil belajar siswa. Penelitian kuantitatif ini mengkaji efektivitas bimbingan sebaya berbasis TGT dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas V dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini melibatkan 50 siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Karangploso, yang dibagi secara merata menjadi kelas eksperimen (25 siswa) dan kelas kontrol (25 siswa). Data dikumpulkan menggunakan tes deskriptif yang dirancang berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya dan dianalisis melalui uji normalitas, homogenitas, serta uji-t sampel independen menggunakan SPSS 30. Hasil menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan kelas eksperimen mencapai skor rata-rata pasca-tes sebesar 83,40, dibandingkan dengan 61,00 pada kelas kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa bimbingan teman sebaya berdasarkan TGT lebih efektif daripada metode pengajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Kesimpulannya, model Bimbingan Sebaya berbasis TGT menawarkan metode strategis untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris dan memperkuat kompetensi pemecahan masalah dalam konteks sekolah dasar.</span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Diah Sinta Sri Berlianti, Patria Handung Jayahttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3732Effectiveness of Edugame Integration in Problem Based Learning: Impact Analysis on Students' Critical Thinking and Motivation2025-12-05T00:16:38+00:00Tiawanti[email protected]M. Zainal Arifin[email protected]Deddy Sofyan S[email protected]<div> <p class="BasicParagraph"><span lang="IN">Several studies have shown that the low score of Indonesia's PISA in 2022 is due to weak 21st-century skills competencies, such as critical thinking skills. The implementation of learning models and media has not been able to facilitate students' critical thinking. Students only listen, read books, and do recall exercises. This study aims to provide alternative solutions for implementing a problem-based learning model assisted by edugames to improve critical thinking skills and learning motivation, using a quasi-experimental method with a Pretest and Posttest Control-Group. The study subjects involved 40 fifth-grade elementary school students, divided into a control class using problem-based learning without edugames and an experimental class using problembased learning assisted by edugames. Analysis of critical thinking skills using the N-Gain test showed that the control class obtained a score of 0.44 in the moderate category and the experimental class 0.71 in the high category. Student learning motivation was indicated by the questionnaire results, which were 93.4% in the very strong criteria. The t-test results illustrated a significant difference between the control and experimental classes. This study concluded that problem-based learning assisted by edugames is effective in improving students' critical thinking skills and learning motivation.</span></p> <p class="BasicParagraph"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: </span>Beberapa kajian faktor rendahnya skor PISA Indonesia tahun 2022 disebabkan lemahnya kompetensi keterampilan.abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis. Implementasi model dan media pembelajaran belum mampu memfasilitasi siswa berpikir kritis. Siswa hanya menyimak, membaca buku dan mengerjakan soal latihan bersifat <em>recall</em>. Penelitian ini bertujuan menghasilkan solusi alternatif implementasi model pembelajaran berbasis masalah berbantuan <em>edugame </em>untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar, dengan metode kuasi eksperimen desain rancangan <em>Pretest and Posttest Control-Group Design</em>. Subyek penelitian melibatkan 40 siswa kelas 5 Sekolah Dasar, terbagi kelas kontrol menggunakan pembelajaran berbasis masalah tanpa <em>edugame </em>dan kelas eksperimen menggunakan pembelajaran berbasis masalah berbantuan <em>edugame.</em> Analisis keterampilan berpikir kritis menggunkan uji N-Gain kelas kontrol memperoleh 0,44 kategori sedang dan kelas eksperimen 0,71 kategori tinggi. Motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan hasil angket yaitu 93,4% kriteria sangat kuat. Hasil uji-t menggambarkan perbedaan signifikan kelas kontrol dan eksperimen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah berbantuan <em>edugame</em> efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.</p> <p class="BasicParagraph"> </p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Tiawanti, M. Zainal Arifin, Deddy Sofyan Shttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3487Analysis of Tryout Test Item for Students of the Elementary School Teacher Professional Education Program2025-10-18T12:59:43+00:00Titis Angga Rini[email protected]Yuniawatika[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstract</strong>: This research is motivated by the importance of the availability of valid and reliable test instruments in measuring the four main competencies of elementary school teachers, which include professional, pedagogical, personality, and social competencies according to educational professionalism standards in Indonesia. The purpose of this study is to analyze the quality of the competency test tryout instrument in the </span><span lang="EN-US">elementary </span><span lang="IN">teacher professional education program </span><span lang="EN-US">(</span><span lang="IN">PPG SD</span><span lang="EN-US">)</span><span lang="IN"> through tests of differentiation, difficulty, validity, reliability, and effectiveness of the diverter, so that the feasibility of the question items used can be determined. The research method used a quantitative approach with the analysis of question items on 35 test items, including the validity test, the reliability of Cronbach's Alpha, as well as the analysis of the distribution of answers and the effectiveness of the trickster. The results of the study showed that some of the questions had sufficient quality with adequate differentiation, moderate difficulty, and a well-functioning distractor, but still many invalid items and ineffective deceptionists were found. The reliability value of the instrument was </span><span lang="EN-US">around </span><span lang="IN">0.</span><span lang="EN-US">7</span><span lang="IN">, indicating a fairly good internal consistency, although there were still items with low correlations that needed to be revised. Thus, this test instrument has the potential to be used as a competency measurement tool for </span><span lang="EN-US">students of the </span><span lang="IN">PPG</span><span lang="EN-US"> SD Program</span><span lang="IN">, but requires a thorough revision of several items to be more valid, reliable, and representative.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya ketersediaan instrumen tes yang valid dan reliabel dalam mengukur empat kompetensi utama guru sekolah dasar, yaitu kompetensi profesional, pedagogis, kepribadian, dan sosial sesuai dengan standar profesi pendidikan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas instrumen uji coba tes kompetensi dalam program pendidikan profesional guru sekolah dasar (PPG SD) melalui pengujian diferensiasi, tingkat kesulitan, validitas, reliabilitas, dan efektivitas distraktor, sehingga kelayakan butir-butir soal yang digunakan dapat ditentukan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis terhadap 35 butir soal, termasuk pengujian validitas, reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha, serta analisis distribusi jawaban dan efektivitas distraktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa soal memiliki kualitas yang memadai dengan tingkat daya pembeda yang cukup, tingkat kesulitan sedang, dan pilihan jawaban pengecoh yang berfungsi dengan baik, namun masih ditemukan banyak item yang tidak valid dan pilihan jawaban pengecoh yang tidak efektif. Nilai reliabilitas instrumen tersebut sekitar 0,7, yang menunjukkan konsistensi internal yang cukup baik, meskipun masih terdapat item dengan korelasi rendah yang perlu direvisi. Dengan demikian, instrumen tes ini berpotensi digunakan sebagai alat pengukuran kompetensi bagi mahasiswa Program PPG SD, namun memerlukan revisi menyeluruh terhadap beberapa butir soal agar lebih valid, reliabel, dan representatif.</span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Titis Angga Rini, Yuniawatikahttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3598Augmented Reality-Based E-Module for Virtual Field Trips to Enhance Spatial Thinking and Problem-Solving 2025-12-05T00:16:13+00:00Muhammad Fathul Fuadi[email protected]Wasino[email protected]<p class="Abstrakisi"><span lang="EN-US"><strong>Abstract</strong>: This study aimed to develop and validate an augmented reality (AR)-based e-module incorporating virtual field trips (VFTs) to improve spatial thinking and problem-solving skills in elementary science education. Utilizing a Research and Development (R&D) methodology guided by the ADDIE model, the research involved 64 fifth-grade students divided into experimental and control groups. Data were gathered through spatial thinking and problem-solving assessments, observation checklists, and student feedback surveys, and subsequently analyzed using ANCOVA. The results demonstrated that the experimental group significantly outperformed the control group (p < .05). Qualitative feedback further revealed enhanced student engagement, visualization capabilities, and conceptual understanding. The primary contribution of this study is its demonstration of how integrating AR with VFTs advances existing learning theories by connecting embodied visualization with inquiry-based problem-solving. The novelty of this research lies in applying AR-enhanced VFTs within elementary science education in resource-limited settings, where opportunities for real-world field experiences are scarce. Beyond the local context, these findings contribute to the global discourse on utilizing immersive technologies to cultivate essential 21st-century skills, particularly spatial reasoning and problem-solving, which are vital across STEM education worldwide.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="EN-US"><strong>Abstrak</strong>: </span><span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi modul e-learning berbasis augmented reality (AR) yang mengintegrasikan kunjungan lapangan virtual (VFT) untuk meningkatkan kemampuan berpikir spasial dan pemecahan masalah dalam pendidikan sains tingkat dasar. Menggunakan metodologi Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang didasarkan pada model ADDIE, penelitian ini melibatkan 64 siswa kelas lima yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui penilaian pemikiran spasial dan pemecahan masalah, daftar periksa observasi, dan survei umpan balik siswa, dan kemudian dianalisis menggunakan ANCOVA. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen secara signifikan outperformed kelompok kontrol (p < .05).Umpan balik kualitatif lebih lanjut mengungkapkan peningkatan keterlibatan siswa, kemampuan visualisasi, dan pemahaman konseptual. Kontribusi utama studi ini adalah demonstrasinya tentang bagaimana integrasi AR dengan VFTs memperkaya teori pembelajaran yang ada dengan menghubungkan visualisasi yang tertanam dengan pemecahan masalah berbasis penyelidikan. Keunikan penelitian ini terletak pada penerapan VFTs yang diperkaya AR dalam pendidikan sains dasar di lingkungan dengan sumber daya terbatas, di mana kesempatan untuk pengalaman lapangan di dunia nyata jarang tersedia. Di luar konteks lokal, temuan ini berkontribusi pada diskusi global tentang penggunaan teknologi imersif untuk mengembangkan</span><span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">keterampilan abad ke-21 yang esensial, terutama penalaran spasial dan pemecahan masalah, yang vital dalam pendidikan STEM di seluruh dunia.</span></p>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muhammad Fathul Fuadi, Wasinohttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3994Teachers' Perspectives on Primary School Students' Speaking and Presenting Skills: A Survey Study2025-12-12T14:28:34+00:00Adrias[email protected]Mansurdin[email protected]Yunisrul[email protected]Agus Ruswandi[email protected]Fadhilah Majid[email protected]<p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstract</strong>: Speaking and presenting are learning outcomes that present greater challenges than other elements as they require students to possess both adequate verbal proficiency and psychological readiness. This study aims to describe teachers' perceptions of student achievement in speaking and to identify the factors perceived to influence these outcomes. A quantitative survey method was employed, utilizing questionnaires for data collection. The respondents consisted of 161 fifth and sixth-grade elementary school teachers in Padang City, selected through multistage random sampling. Data were analyzed using descriptive statistics. The results indicate that the overall achievement level of speaking and presenting in Phase C is 77.90%, categorized as "High". The highest achievement was found in students' post-learning confidence at 81.57% (Very High), while the lowest achievement was in the ability to organize a presentation with a clear structure (introduction, body, and conclusion), which only reached 69.57% and was categorized as "Moderate".</span></p> <div> <p class="Abstrakisi"><strong>Abstrak</strong>: Berbicara dan mempresentasikan merupakan salah satu hasil belajar yang lebih sulit dibandingkan unsur-unsur lain, karena keduanya menuntut siswa untuk memiliki kemampuan verbal yang memadai serta kesiapan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi guru terhadap pencapaian siswa dalam berbicara serta mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap memengaruhi hasil belajar tersebut. Metode survei kuantitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan memanfaatkan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Responden terdiri dari 161 guru sekolah dasar kelas lima dan enam di Kota Padang, yang dipilih melalui pengambilan sampel acak bertahap. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pencapaian keseluruhan dalam berbicara dan mempresentasikan pada Fase C adalah 77,90%, yang dikategorikan sebagai "Tinggi". Pencapaian tertinggi ditemukan pada kepercayaan diri siswa pasca pembelajaran sebesar 81,57% (Sangat Tinggi), sedangkan hasil terendah terdapat pada kemampuan menyusun presentasi dengan struktur yang jelas (pendahuluan, isi, dan kesimpulan), yang hanya mencapai 69,57% dan dikategorikan sebagai "Sedang".</p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Adrias, Mansurdin, Yunisrul, Agus Ruswandi, Fadhilah Majidhttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4561Enhancing Third-Grade Students’ Speaking Skills through the Integration of the Synectic Learning Model and the Extemporaneous Method2026-02-13T23:43:36+00:00Linda Amelia Putri[email protected]Panca Dewi Purwati[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><strong>Abstract</strong>: Based on initial observations conducted in the classroom, it appears that students' speaking skills are still low. They are not yet able to express ideas verbally, and the use of one-way learning models and approaches is the main cause. Given these issues, it is necessary to apply a synectic learning model with a deep learning approach assisted by extemporaneous methods. This study aims to describe, measure differences, and measure improvements in Indonesian speaking skills in third-grade elementary school students. The approach used is a mixed method (quantitative and qualitative). Qualitative data were obtained from observations, interviews, and documentation. Qualitative data explains the stages of activities and changes in student skills after the application of the synectic model, deep learning approach, and extemporaneous method. Quantitative data were obtained from the results of pretest and posttest speaking skills at SDN 02 Leteh with a total of 26 students. This study applies the second strategy synectic learning model, using analogies and speaking activities using a text framework to express understanding. The results of the Paired T-Test for the pretest and posttest proved that there was a significant difference between the two, with a t-value of -15.958 and a significance of 0.000. In addition, the N-Gain test results also showed a score of 0.6095 or 60%, indicating that the learning process provided was effective enough to improve students' speaking skills. The qualitative results reinforce the quantitative results, as demonstrated by the students' increased courage, fluency, and activity in speaking.</p> <div> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas, memperlihatkan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah. Mereka belum mampu mengungkapkan gagasan secara lisan, penggunaan pembelajaran yang satu arah menjadi penyebab utama utama. Melalui permasalahan tersebut, maka perlu adanya penerapan model pembelajaran sinektik dengan pendekatan <em>deep learning</em> berbantuan metode ekstemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengukur perbedaan, serta mengukur peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia pada siswa kelas 3 sekolah dasar. Pendekatan yang digunakan adalah <em>mixed method</em> (kuantitatif dan kualitatif). Data kualitatif didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kuantitatif diperoleh dari hasil <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> keterampilan berbicara di SDN 02 Leteh dengan jumlah 26 siswa. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran sinektik strategi dua, menggunakan analogi dan kegiatan berbicara menggunakan kerangka teks untuk mengemukakan pemahamannya. Hasil <em>Paired T-Test</em> <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> membuktikan adanya perbedaan signifikan antara keduanya, dengan nilai t-hitung </span><span lang="IN">-15,958 </span><span lang="IN">dan signifikansi 0,000. Selain itu, hasil uji N-Gain juga menunjukkan skor 0,6095 atau 60% yang menandakan bahwa perlakuan yang diberikan cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berbicara. Hasil kualitatif tersebut memperkuat hasil kuantitatif, sebagaimana terlihat dari meningkatnya keberanian, kelancaran, dan keaktifan para siswa dalam berbicara.</span></p> </div> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Linda Amelia Putri, Panca Dewi Purwatihttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/2794Management Information Systems and the Efficiency of Elementary School Administration: A Literature Review Based on Evidence-Based Research on Integrated Systems2025-08-19T11:59:04+00:00Ramadhan Maruta Pradana[email protected]Devi Purnamasari Sasongko[email protected]Esa Mariya Puspitasari[email protected]Yurika Fauzia Wardhani[email protected]Andi Kristanto[email protected]Syunu Trihantoyo[email protected]<div> <p><span lang="EN-US"><strong>Abstract</strong>: This study presents a systematic literature review examining the effectiveness of Management Information Systems (MIS) in improving the efficiency and accountability of elementary school management. The review followed the PRISMA 2020 guidelines. A structured search across Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, ScienceDirect, and Google Scholar identified 186 records. After duplicate removal, screening, and eligibility assessment, 24 empirical studies published between 2015 and 2025 were included. The findings indicate that MIS implementation consistently enhances administrative efficiency, improves data accuracy, accelerates reporting processes, and strengthens managerial accountability. Integrated MIS platforms were associated with streamlined workflows, reduced documentation redundancy, and improved institutional transparency. However, the effectiveness of MIS adoption remains influenced by system integration, technological infrastructure, digital literacy, leadership support, and organisational readiness. Persistent barriers include limited internet connectivity, inadequate hardware, user competency gaps, and resistance to technological change. Overall, MIS functions as a strategic enabler of evidence-based governance in elementary education. Sustainable benefits require integrated system design, infrastructure readiness, and continuous capacity-building initiatives.</span></p> <p><span lang="EN-US"><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini menyajikan tinjauan pustaka secara sistematis yang mengkaji efektivitas Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan sekolah dasar. Tinjauan ini mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian terstruktur di Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, ScienceDirect, dan Google Scholar mengidentifikasi 186 artikel. Setelah proses seleksi duplikat, penyaringan, dan penilaian kelayakan, 24 studi empiris yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025 digunakan dalam proses analisis. Temuan menunjukkan bahwa penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) secara konsisten meningkatkan efisiensi administratif, memperbaiki akurasi data, mempercepat proses pelaporan, dan memperkuat akuntabilitas manajerial. Platform SIM terintegrasi dikaitkan dengan alur kerja yang lebih efisien, pengurangan redundansi dokumentasi, dan peningkatan transparansi kelembagaan. Namun, efektivitas penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) tetap dipengaruhi oleh integrasi sistem, infrastruktur teknologi, literasi digital, dukungan kepemimpinan, dan kesiapan organisasi. Hambatan yang terus berlanjut meliputi konektivitas internet yang terbatas, perangkat keras yang tidak memadai, kesenjangan kompetensi pengguna, serta penolakan terhadap perubahan teknologi. Secara keseluruhan, SIM berfungsi sebagai pendorong strategis bagi tata kelola berbasis bukti di bidang pendidikan dasar. Untuk memperoleh manfaat yang berkelanjutan, diperlukan desain sistem yang terintegrasi, kesiapan infrastruktur, serta inisiatif pengembangan kapasitas yang berkelanjutan.</span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ramadhan Maruta Pradana, Devi Purnamasari Sasongko, Esa Mariya Puspitasari, Yurika Fauzia Wardhani, Andi Kristanto, Syunu Trihantoyohttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4005Number Sense and Mental Arithmetic in Terms of Mathematical Ability: A Case Study on Elementary School Students2026-02-13T13:24:49+00:00Ade Firma Handriyani Putri[email protected]Neni Mariana[email protected]Rooselyna Ekawati[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><strong>Abstract</strong>: This descriptive qualitative case study examines the number-sense and mental-arithmetic profiles of six fifth-grade students across varying mathematical ability levels. Data were collected through written tests, semi-structured interviews, and work documentation, then analyzed using data reduction, display, and verification. Findings revealed that high-ability students demonstrated mastery through flexibility, accuracy, and efficiency. Moderate-ability students met most criteria but showed inconsistencies with complex tasks, while low-ability students faced substantial difficulties and displayed unstable strategies. These results emphasize the necessity of differentiated instruction. To foster foundational numerical competencies, teachers should implement regular mental math activities, such as daily number discussions, to practice flexible estimation. Furthermore, providing scaffolded support—such as gradually reducing the use of scratch paper—is essential for low-ability students to alleviate mental strain and strengthen memory for mental calculations. This structured approach ensures effective development of mathematical proficiency across all student profiles. This approach ensures foundational numerical competencies are developed effectively across all student profiles.</p> <p class="Abstrakisi"><strong>Abstrak</strong>: Studi kasus kualitatif deskriptif ini mengkaji profil pemahaman bilangan dan perhitungan mental pada enam siswa kelas lima dengan tingkat kemampuan matematika yang beragam. Data dikumpulkan melalui tes tertulis, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi hasil pekerjaan, kemudian dianalisis dengan metode reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Temuan menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan tinggi menunjukkan penguasaan melalui fleksibilitas, akurasi, dan efisiensi. Siswa dengan kemampuan sedang memenuhi sebagian besar kriteria namun menunjukkan ketidakkonsistenan dalam mengerjakan tugas-tugas kompleks, sementara siswa dengan kemampuan rendah menghadapi kesulitan yang cukup besar dan menerapkan strategi yang tidak konsisten. Hasil ini menekankan pentingnya penerapan pembelajaran diferensiasi. Untuk mengembangkan kompetensi numerik dasar, guru sebaiknya menerapkan latihan rutin berhitung di luar kepala tanpa menggunakan alat bantu, seperti diskusi seputar angka, guna melatih kemampuan memperkirakan angka secara fleksibel. Selain itu, pemberian dukungan bertahap—seperti secara bertahap mengurangi penggunaan kertas coretan untuk berhitung—sangat penting bagi siswa dengan kemampuan rendah untuk mengurangi beban mental dan memperkuat daya ingat dalam melakukan perhitungan mental. Pendekatan terstruktur ini memastikan pengembangan kemampuan matematika yang efektif pada semua profil siswa. Pendekatan ini memastikan kompetensi numerik dasar dikembangkan secara efektif pada semua profil siswa.</p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ade Firma Handriyani Putri, Neni Mariana, Rooselyna Ekawatihttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4727Development of Canva-Based Interactive Learning Media for Mixed Fractions in Elementary School2026-03-09T14:29:28+00:00Cecep Kurniawan[email protected]Sahrun Nisa[email protected]M. Habibi[email protected]Adrias[email protected]Masniladevi[email protected]<p><strong>Abstract</strong>: <span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">The development of interactive learning media is crucial in elementary mathematics education, as abstract concepts often challenge students’ comprehension. This study focused on creating Canva-based interactive learning media for mixed-fraction topics that met validity, practicality, and effectiveness criteria. The ADDIE model was implemented in three elementary schools. The results showed that the media validation score increased significantly from 58% to 93.9%. Teacher and student response rates were also very high, reaching 94% and 91.5%, respectively. Furthermore, student learning outcomes improved significantly from an average score of 33.84285 to 86.592885 with an N-Gain score of 0,8041009763</span> <span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">categorized as high. These findings indicate that Canva-based interactive learning media are highly valid, practical, and effective for mathematics instruction. In addition, the integration of visual elements, animations, and interactive features enhances student engagement and helps them better visualize complex concepts such as mixed fractions. The use of technology-based media also supports student-centered learning and increases active participation. Overall, Canva demonstrates strong potential as an innovative tool to improve learning outcomes and conceptual understanding among elementary school students.</span></p> <p><strong>Abstrak</strong>: Pengembangan media pembelajaran interaktif sangat penting dalam pendidikan matematika sekolah dasar, karena konsep-konsep abstrak seringkali menyulitkan pemahaman siswa. Penelitian ini berfokus pada pembuatan media pembelajaran interaktif berbasis Canva untuk topik pecahan campuran yang memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas. Model ADDIE diterapkan di tiga sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor validasi media meningkat secara signifikan dari 58% menjadi 93,9%. Tingkat respons guru dan siswa juga sangat tinggi, masing-masing mencapai 94% dan 91,5%. Selain itu, hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dari skor rata-rata 33,84285 menjadi 86,592885 dengan skor N-Gain sebesar 0,8041009763 yang dikategorikan sebagai tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis Canva sangat valid, praktis, dan efektif untuk pengajaran matematika. Selain itu, integrasi elemen visual, animasi, dan fitur interaktif meningkatkan keterlibatan siswa serta membantu mereka memvisualisasikan konsep-konsep rumit seperti pecahan campuran dengan lebih baik. Penggunaan media berbasis teknologi juga mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa dan meningkatkan partisipasi aktif mereka. Secara keseluruhan, Canva menunjukkan potensi yang besar sebagai alat inovatif untuk meningkatkan hasil belajar dan pemahaman konseptual di kalangan siswa sekolah dasar.</p>2026-05-11T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Cecep Kurniawan, Sahrun Nisa, M. Habibi, Adrias, Masniladevihttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4849Empowering Cultural and Civic Literacy through Anti-Bullying Traditional Game-Based Learning in Elementary School2026-04-08T08:03:58+00:00Wuli Oktiningrum[email protected]Lutfiatus Zuhroh[email protected]Adzimatnur Muslihasari[email protected]Dyah Ayu Pramoda Wardhani[email protected]Andi Wibowo[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstract</strong>: This study develops and evaluates traditional game–based learning media—Ular Tangga and Engklek—integrated with anti-bullying elements and Indonesian cultural diversity content to enhance elementary students’ cultural and civic literacy. Employing the ADDIE development model, the research involved 28 fifth-grade students for field testing and 10 sixth-grade students for small-group trials. Data were collected through expert validation, observations, interviews, tests, and questionnaires. The learning media demonstrated strong validity, with expert scores exceeding 85%. Students’ learning outcomes improved substantially, as reflected in the increase from an average pre-test score of 56.0 to a post-test score of 81.4. The N-Gain value of 0.8183, categorized as high, confirms the effectiveness of the media in strengthening students’ understanding of cultural diversity and bullying prevention. The findings indicate that embedding cultural, civic, and moral values into traditional games offers a formal, culturally responsive instructional approach that promotes cognitive development and positive social behavior in elementary education.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi media pembelajaran berbasis permainan tradisional—Ular Tangga dan Engklek—yang diintegrasikan dengan unsur-unsur anti-bullying dan konten keragaman budaya Indonesia guna meningkatkan literasi budaya dan kewarganegaraan siswa sekolah dasar. Dengan menggunakan model pengembangan ADDIE, penelitian ini melibatkan 28 siswa kelas lima untuk uji lapangan dan 10 siswa kelas enam untuk uji coba kelompok kecil. Data dikumpulkan melalui validasi ahli, observasi, wawancara, tes, dan kuesioner. Media pembelajaran tersebut menunjukkan validitas yang kuat, dengan skor penilaian ahli melebihi 85%. Hasil belajar siswa meningkat secara signifikan, sebagaimana tercermin dari kenaikan skor rata-rata pra-tes sebesar 56,0 menjadi skor pasca-tes sebesar 81,4. Nilai N-Gain sebesar 0,8183, yang dikategorikan sebagai tinggi, menegaskan keefektifan media tersebut dalam memperkuat pemahaman siswa tentang keragaman budaya dan pencegahan perundungan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai budaya, kewarganegaraan, dan moral ke dalam permainan tradisional menawarkan pendekatan pembelajaran formal yang responsif secara budaya, yang mendorong perkembangan kognitif dan perilaku sosial yang positif dalam pendidikan dasar.</span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Wuli Oktiningrum; Lutfiatus Zuhroh, Adzimatnur Muslihasari, Dyah Ayu Pramoda Wardhani, Andi Wibowohttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3937Beyond the Numerator: Visualizing the Equal Partitioning Barrier in Elementary Fraction Learning2025-12-12T14:32:20+00:00Davina Aurelia[email protected]Slamet Arifin[email protected]Siti Faizah[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstract</strong>: Understanding fractions remains a persistent challenge for </span><span lang="EN-US">elementary </span><span lang="IN">students, particularly when translating verbal mathematical problems into visual representations. This study aims to analyze the visual-conceptual difficulties of elementary school students in understanding fractions, </span><span lang="EN-US">specifically</span><span lang="IN"> the principles of </span><span lang="EN-US">e</span><span lang="IN">qual </span><span lang="EN-US">p</span><span lang="IN">artitions and </span><span lang="EN-US">e</span><span lang="IN">quivalence </span><span lang="EN-US">f</span><span lang="IN">raction, through visual representations. Using a </span><span lang="EN-US">thematic content analysis within a descriptive </span><span lang="IN">qualitative </span><span lang="EN-US">design</span><span lang="IN">, six fifth-grade students were selected based on their mathematical representation skills. Instruments included an illustrated diagnostic test (6 figures) and semi-structured interviews. The results reveal that the majority of students exhibited significant misconceptions rooted not in an inability to see differences, but in a "counting schema"</span><span lang="EN-US">. T</span><span lang="IN">hey defined fractions solely by counting shaded parts versus total parts, ignoring the requirement of equal area. Specifically, students failed to apply the equal partition principle to disproportionate images, made systematic denominator errors due to excessive focus on the numerator, and showed rigidity in recognizing equivalent fractions (e.g., rejecting 2/6 the same as 1/3). These findings confirm that a discrete (counting) rather than continuous (measuring) reasoning schema acts as a significant conceptual barrier. Therefore, this study recommends non-prototypical and dynamic visual training that explicitly disrupts the counting habit and forces students to verify equal partitioning before labeling a fraction.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: Memahami pecahan masih menjadi tantangan bagi siswa sekolah dasar, terutama saat mengubah soal matematika lisan menjadi representasi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan visual-konseptual yang dialami siswa sekolah dasar dalam memahami pecahan, khususnya prinsip pembagian yang sama besar dan pecahan senilai, melalui representasi visual. Dengan menggunakan analisis tematik dalam kerangka desain kualitatif deskriptif, enam siswa kelas lima dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam merepresentasikan konsep matematika. Instrumen yang digunakan meliputi tes diagnostik bergambar (6 gambar) dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan kesalahpahaman yang signifikan, bukan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk melihat perbedaan, melainkan karena "skema penghitungan". Mereka mendefinisikan pecahan semata-mata dengan menghitung bagian yang diarsir dibandingkan dengan jumlah keseluruhan bagian, tanpa memperhatikan syarat luas bagian yang sama besar. Secara spesifik, siswa gagal menerapkan prinsip pembagian yang sama besar pada gambar yang tidak proporsional, membuat kesalahan dalam menentukan penyebut karena cenderung fokus pada pembilang, dan menunjukkan kekakuan dalam mengenali pecahan yang senilai (seperti, menolak 2/6 sama dengan 1/3). Temuan ini menegaskan bahwa skema penalaran diskrit (penghitungan) —bukan skema penalaran kontinu (pengukuran)— menjadi sebagai hambatan konseptual yang signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pelatihan visual yang tidak prototipikal dan dinamis, yang secara eksplisit mengurangi kebiasaan menghitung bagian dan memaksa siswa untuk memverifikasi pembagian yang sama sebelum memberi label pada suatu pecahan. </span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Davina Aurelia, Slamet Arifin, Siti Faizahhttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/3504The Potential of Geoparks for Sustainability Learning Resources in Elementary Schools: A Review2025-11-16T05:38:08+00:00Styo Mahendra Wasita Aji[email protected]Herti Prastitasari[email protected]Miftha Huljannah[email protected]Nurul Julaifah[email protected]<div> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstract</strong>: The environment can be a source of learning that is relevant to elementary school students according to their developmental stages. The purpose of this study is to describe the role of geoparks for education so far, to describe geopark opportunities as a learning resource in elementary schools, and to describe the challenges of geoparks as a learning resource in elementary schools. The research is based on a systematic method of literature review that refers to the PRISMA flow. Systematic literature review consists of identification, </span><span lang="IN">screening</span><span lang="IN">, and included steps. The reviewed articles went through the screening and study of the PRISMA pipeline with the Scopus database between 2020 </span><span lang="EN-US">until</span><span lang="IN"> 2025. The results of the study show that there is a role that has been carried out by geoparks as a place that contains knowledge and values about sustainability, the potential of geoparks as a sustainability-based learning resource, and challenges as a learning resource in elementary schools with sustainability values that require regulatory certainty as a form of community involvement in preserving geoheritage heritage. The next recommendation is the potential for the development of teaching materials or a geopark-based learning model that can be carried out.</span></p> <p class="Abstrakisi"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: Lingkungan dapat menjadi sumber pembelajaran yang relevan bagi siswa sekolah dasar sesuai dengan tahap perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan peran geopark dalam pendidikan hingga saat ini, mengidentifikasi potensi geopark sebagai sumber daya pembelajaran di sekolah dasar, serta mengidentifikasi tantangan geopark sebagai sumber daya pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini didasarkan pada metode tinjauan pustaka sistematis yang mengacu pada alur PRISMA. Tinjauan pustaka sistematis terdiri dari tahap identifikasi, penyaringan, dan inklusi. Artikel-artikel yang ditinjau telah melalui proses penyaringan dan analisis menggunakan alur kerja PRISMA dengan basis data Scopus dari tahun 2020 hingga 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa geopark memiliki peran sebagai tempat yang menyimpan pengetahuan dan nilai-nilai tentang keberlanjutan, potensi geopark sebagai sumber belajar berbasis keberlanjutan, serta tantangan dalam penggunaannya sebagai sumber belajar di sekolah dasar yang mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan; hal ini memerlukan kepastian regulasi sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam melestarikan warisan geologi. Rekomendasi selanjutnya adalah potensi pengembangan bahan ajar atau model pembelajaran berbasis geopark yang dapat diimplementasikan.</span></p> </div>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Styo Mahendra Wasita Aji, Herti Prastitasari, Miftha Huljannah, Nurul Julaifahhttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4285Teaching Anxiety, Efficacy, and Immersive Experience in VR-Based Microteaching among Elementary Pre-Service Teachers in Rural Context2026-04-16T02:53:50+00:00Eli Meivawati[email protected]Zuhra Meiliza[email protected]Husnul Khatimah[email protected]Asmirinda Resa[email protected]Hilman Qudratuddarsi[email protected]Hazlynda Bt Atta[email protected]<p><strong>Abstract</strong>: Teacher education in rural contexts faces challenges related to limited teaching practice opportunities, technological access, and pedagogical support, which may affect pre-service teachers’ instructional readiness. This study examines the roles of teaching anxiety, teaching efficacy, immersive learning experience, and interest in virtual reality in shaping basic teaching skills through virtual reality–based microteaching among elementary pre-service teachers in rural contexts. A quantitative explanatory design was employed involving 205 pre-service teachers from the Primary School Teacher Education program at Universitas Sulawesi Barat. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling. The findings indicate that immersive learning experience has a strong positive effect on basic teaching skills (β=0.501, p<0.001), followed by teaching efficacy (β=0.372, p<0.001). In contrast, teaching anxiety shows a negative but non-significant effect (β = −0.043, p > 0.05). Additionally, interest in virtual reality positively influences immersive learning experience (β=0.330, p<0.001) and indirectly contributes to basic teaching skills through immersion (β =0.165, p<0.01). The model explains 61.3% of the variance in basic teaching skills (R²=0.613). These results highlight the potential of virtual reality–based microteaching as an effective approach for developing pedagogical skills among elementary pre-service teachers in rural educational settings.</p> <p><strong>Abstrak</strong>: <span style="font-size: 0.875rem;">Pendidikan guru di daerah rural menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kesempatan praktik mengajar, akses teknologi, dan dukungan pedagogis, yang dapat memengaruhi kesiapan mengajar calon guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kecemasan mengajar, efikasi mengajar, pengalaman belajar imersif, dan minat terhadap virtual reality dalam membentuk keterampilan dasar mengajar melalui microteaching berbasis virtual reality pada calon guru sekolah dasar di daerah rural Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif eksplanatori dengan melibatkan 205 mahasiswa PGSD Universitas Sulawesi Barat. Data dikumpulkan menggunakan angket terstruktur dan dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar imersif berpengaruh positif kuat terhadap keterampilan dasar mengajar (β=0,501; p<0,001), diikuti oleh efikasi mengajar (β=0,372; p<0,001). Sebaliknya, kecemasan mengajar menunjukkan pengaruh negatif namun tidak signifikan (β =−0,043; p>0,05). Selain itu, minat terhadap virtual reality berpengaruh positif terhadap pengalaman belajar imersif (β=0,330; p<0,001) dan berpengaruh tidak langsung terhadap keterampilan dasar mengajar melalui pengalaman belajar imersif (β=0,165; p<0,01). Model penelitian mampu menjelaskan 61,3% variasi keterampilan dasar mengajar (R²=0,613). Temuan ini menegaskan bahwa microteaching berbasis virtual reality berpotensi menjadi pendekatan efektif dalam meningkatkan keterampilan pedagogis calon guru sekolah dasar di konteks pendidikan rural.</span></p>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Eli Meivawati, Zuhra Meiliza, Husnul Khatimah, Asmirinda Resa; Hilman Qudratuddarsi; Hazlynda Bt Attahttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4004The Influence of the Coding and Artificial Intelligence Program on Fifth Graders’ Computational Thinking Skills2026-04-15T03:50:12+00:00Adinda Siti Aisyah[email protected]Zaenal Abidin[email protected]Vicky Dwi Wicaksono[email protected]Amadhila Elina Penehafo[email protected]<p><strong>Abstract</strong>: The massive use of technology, which has become a dominant and transformational force, requires students to develop computational thinking (CT) skills from elementary school. However, observations in class 5C SDN Keboansikep 2 showed that students’ CT skills were low despite students’ familiarity with technology. This study aims to examine the effect of the Coding and Artificial Intelligence (CAI) program on students’ CT skills in class 5C SDN Keboansikep 2. The research used a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. Data were collected through a 20-item multiple-choice test based on CT indicators. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics. Descriptive results showed an average pretest of 64.26 and posttest of 82.22, with an increase of 17.96 points. The paired sample t-test showed Sig. (2-tailed) < 0.001, showing that the CAI program had a significant influence on CT skills. The N-Gain average of 0.5693, meaning that the CAI program was moderately effective in improving CT skills. The results show that the CAI program has a significant influence and quite an effective impact on improving the CT skills. Theoretically, the CAI program aligns with Vygotsky’s social constructivism theory, and practically encourages schools and policymakers to strengthen the CAI program in preparing a generation capable of creating technology-based solutions through CT.</p> <p><strong>Abstrak</strong>: Penggunaan teknologi yang masif, yang telah menjadi kekuatan dominan dan transformatif, menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir komputasional (CT) sejak sekolah dasar. Namun, pengamatan di kelas VC Sekolah Dasar Negeri Keboansikep 2 menunjukkan bahwa keterampilan CT siswa masih rendah, meskipun siswa sudah terbiasa dengan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh program Coding and Artificial Intelligence (CAI) terhadap keterampilan CT 27 siswa di kelas VC Sekolah Dasar Negeri Keboansikep 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <span lang="EN-US">one-group pretest-posttest</span>. Data dikumpulkan melalui tes pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal berdasarkan indikator CT. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil deskriptif menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 64,26 dan posttest sebesar 82,22, dengan peningkatan sebesar 17,96 poin. Uji paired-t menghasilkan nilai Sig. (dua sisi) < 0,001, yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Rata-rata N-Gain sebesar 0,5693, menunjukkan efektivitas sedang. Hasil menunjukkan bahwa program CAI memiliki pengaruh yang signifikan dan dampak yang cukup efektif dalam meningkatkan keterampilan CT. Secara teoritis, program CAI sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky, dan secara praktis mendorong sekolah serta pembuat kebijakan untuk memperkuat program CAI dalam mempersiapkan generasi yang mampu menciptakan solusi berbasis teknologi melalui CT.</p>2026-05-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Adinda Siti Aisyah, Zaenal Abidin, Vicky Dwi Wicaksono, Amadhila Elina Penehafohttps://journal-fip.um.ac.id/index.php/sd/article/view/4559Development of SELASAR Learning Media to Improve Elementary School Students Social Skills2026-02-09T02:25:36+00:00Aldy Ferdiyansyah[email protected]Bagus Aulia Iskandar[email protected]<div> <p class="Judulabstrak"><span lang="EN-US"><strong>Abstract</strong>: </span><span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">The development of the digital era presents challenges for elementary school students in developing social skills amid the growing tendency toward technology based interactions, creating a need for learning media that align with digital generation characteristics while actively encouraging direct social interaction. </span><span style="font-size: 0.875rem;">This research intends to design and evaluate the efficacy of SELASAR learning media, which combines the classic snakes and ladders game with augmented reality technology to enhance social skills in elementary school students. The research utilized a Research and Development framework based on the DDD-E model, which includes the stages of decide, design, develop, and evaluate. </span><span lang="IN" style="font-size: 0.875rem;">Product trials were conducted using five indicators of social skills: peer relationship, self-management, academic skills, compliance, and affirmation. The results showed that the peer relationship aspect achieved 72.5% and was categorized as good, self-management reached 90% and was categorized as very good, academic skills achieved 81.25 percent and were categorized as very good, compliance reached 72.5% and was categorized as good, and affirmation achieved 76.25% and was categorized as very good. These findings indicate that SELASAR learning media are effective and practical for addressing challenges related to the development of social skills among elementary school students through interactive and technology integrated learning.</span></p> </div> <div> <p class="Judulabstrak"><span lang="IN"><strong>Abstrak</strong>: </span><span style="font-size: 0.875rem;">Perkembangan era digital menghadirkan tantangan bagi siswa sekolah dasar dalam membangun keterampilan sosial di tengah kecenderungan interaksi berbasis teknologi, sehingga diperlukan media pembelajaran yang selaras dengan karakteristik generasi digital sekaligus mendorong interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas media pembelajaran SELASAR sebagai integrasi permainan ular tangga tradisional dengan teknologi augmented reality untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model DDD-E yang meliputi tahap decide, design, develop, dan evaluate. Uji coba produk berdasarkan lima indikator keterampilan sosial menunjukkan hasil sebagai berikut: (1) aspek peer relationship dengan persentase skor 72,5% tergolong baik; (2) aspek self-management dengan persentase skor 90% tergolong sangat baik; (3) aspek akademik dengan persentase 81,25% tergolong sangat baik; (4) aspek kepatuhan dengan persentase skor 72,5% tergolong baik; (5) aspek penegasan dengan persentase 76,25% tergolong sangat baik. Media pembelajaran SELASAR terbukti efektif dan praktis digunakan dalam menjawab permasalahan terkait pengembangan keterampilan sosial siswa sekolah dasar melalui pembelajaran.</span></p> </div>2026-05-13T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Aldy Ferdiyansyah, Bagus Aulia Iskandar