Jagong Maton Sebagai Model Indigenous Learning dalam Pendidikan Masyarakat : Studi Kasus Pesantren Rakyat Al-Amin

Authors

  • Ageng Dwi Firmansyah Universitas Negeri Malang
  • Ach Rasyad Universitas Negeri Malang
  • Zulkarnain Universitas Negeri Malang

DOI:

https://doi.org/10.17977/um041v20i22025p1-10

Keywords:

jagong maton, pesantren rakyat, Pendidikan Masyarakat, indigenous learning

Abstract

Abstract

This research examines Jagong Maton as an Indigenous Learning model in community education at the Al-Amin People's Islamic Boarding School. Jagong Maton is an adaptation of the local wisdom of Javanese community jagongan, into a dialogical, contextual, and transformative learning forum. This research uses a qualitative approach with a case study, through observation, interviews, and document studies. The results showed that (1) Jagong Maton as an indigenous learning model in community education takes place informally, is flexible in time and place, and utilises cultural media familiar to the community. (2) The forum internalises cultural values, spirituality, moderation, and tolerance, as well as encouraging critical awareness, self-motivation, strengthening social capital, and economic empowerment. (3) In addition, Jagong Maton also produces social change based on local wisdom. Thus, Jagong Maton is not just a traditional forum, but an Indigenous Learning model that is relevant for community education, in line with the principles of out-of-school education oriented towards community empowerment.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna, proses pelaksanaan, dan dampak jagong maton di Pesantren Rakyat Al-Amin sebagai model indigenous learning dalam pendidikan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebagai pendekatan indigenous learning Jagong Maton merupakan adaptasi produk kebudayaan lokal masyarakat Jawa dalam tradisi jagongan, menjadi forum pembelajaran dialogis, kontekstual, dan transformatif. (2) Jagong Maton sebagai indigenous learning dalam pendidikan masyarakat berlangsung secara informal, fleksibel baik dari segi waktu maupun tempat, jagong maton juga memanfaatkan media budaya yang familiar bagi masyarakat, serta menginternalisasi nilai-nilai budaya, spiritualitas, moderasi, dan toleransi. (3) Selain itu, Jagong Maton juga mendorong kesadaran kritis, motivasi diri, penguatan modal sosial, pemberdayaan ekonomi, sehingga mampu menghasilkan perubahan sosial ditataran masyarakat. Oleh karena itu, Jagong Maton bukan hanya forum tradisional, tetapi model indigenous learning yang relevan untuk pendidikan masyarakat, hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan luar sekolah yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Downloads

Published

2025-09-15

Issue

Section

Articles