Pola Pemberdayaan Berbasis Aktivitas Literasi: Studi Pada Komunitas Sosial Dengan Pendekatan Pendidikan Nonformal
DOI:
https://doi.org/10.17977/um041v20i22025p42-53Keywords:
community empowerment, social communities, nonformal education, Learning strategiesAbstract
Abstract
This study aims to examine community empowerment patterns through social communities in the field of education in the Special Region of Yogyakarta. The focus is on the strategies, approaches, and impacts of empowerment programs implemented by various non-formal education communities. This study uses a qualitative descriptive method with data collection through observation and interviews with core administrators and community members. The research findings indicate that social communities such as the Wonderhome Library, Literasi Desa Tumbuh Jogja, TBM Jlegongan, TBM Mata Aksara, and TBM Jita Kita adopt empowerment patterns based on binding social capital, interactive and participatory learning strategies, character-based evaluation, and the provision of inclusive alternative learning spaces. These approaches have been shown to increase student awareness, skills, self-confidence, and independence, while providing learning opportunities relevant to community needs. However, this study also highlights the lack of synergy between social communities and Informal Non-Formal Education institutions, which still lack support. These findings are expected to serve as a reference for practitioners, academics, and policymakers in strengthening community empowerment through non-formal education communities.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui komunitas sosial di bidang pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokusnya adalah pada strategi, pendekatan, dan dampak program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh berbagai komunitas pendidikan nonformal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan pengurus inti dan anggota masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunitas sosial seperti Perpustakaan Wonderhome, Literasi Desa Tumbuh Jogja, TBM Jlegongan, TBM Mata Aksara, dan TBM Jita Kita mengadopsi pola pemberdayaan berbasis modal sosial yang mengikat, strategi pembelajaran interaktif dan partisipatif, evaluasi berbasis karakter, dan penyediaan ruang belajar alternatif yang inklusif. Pendekatan ini telah terbukti meningkatkan kesadaran, keterampilan, kepercayaan diri, dan kemandirian siswa, sekaligus memberikan kesempatan belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Namun, penelitian ini juga menyoroti kurangnya sinergi antara masyarakat sosial dengan lembaga Pendidikan Informal Nonformal yang masih kurang dukungan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui komunitas pendidikan nonformal.




